Text
Janji Di Kolong Meja
Oro-oro Ombo adalah kampung masa kecilku. Letaknya di tengah tegalan (ladang) dan sawah. Bertetangga dengan Istana keraton Solo sekaligus Karesidenan. Bersebelahan dengan sebuah perguruan tinggi negeri. Berlimpah hasil pertanian dan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi. Di sanalah tempat berkumpul anak-anak, muda-mudi clingus tak bertujuan, tak kenal aral dan rintangan, belum berpikir masa depan. Mereka bagai jarum jam yang melakukan rutinitas dan menikmati alam apa adanya. Alam adalah rumahnya. Bulan pelita penerangnya. Langit adalah atap pelindung hidupnya. Bila anak-anak, muda-mudi itu berkumpul di teras rumah, mereka tak pernah lupa membawa lipatan buku dan balpoin. Hanya sentir, teplok atau petromak yang selalu menemani mereka untuk belajar. Suara kodok, cicak, tokek belalang serta tiupan angin menjadi musik terindah teman belajarnya. Mereka adalah generasi muda yang konsisten membenahi alam sebagai rumah bersama. Mereka membuat sentir dan teplok mendampingi langit serta bulan untuk menerangi nurani dalam menggapai janji-janji. Bagaimana mereka melakukannya? Dapatkah mereka mewujudkan impiannya? Sebuah buku yang akan menjawab pertanyaan, "Masihkah kita punya masa lalu?"
Tidak tersedia versi lain