Abo ikut Ayah ke Krayan untuk membuat garam gunung. Abo yakin membuat garam tidak sulit. Betulkah?
Nana sudah bisa menyebutkan angka. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Saat bermain karet dan petak umpet bersama Bayu dan Dita, Nana selalu menyebutkan angka hingga suaranya serak. Tetapi Nana, Bayu, dan Dita mau bermain dampu. Kira-kira apa yang Nana lakukan untuk menandakan kotak-kotak agar mereka bisa bermain dampu? Yuk kita baca bersama-sama.
Oddang bingung untuk menghabiskan waktu libur sekolahnya, sehingga pada akhirnya Ayah Oddang mengajaknya ke bengkel pembuatan kapal pinisi. Ayah Oddang pun bercerita banyak tentang kapal pinisi yang sudah menjadi kebanggaan masyarakat Bugis. Apa saja cerita tentang kapal pinisi itu?
Nenek moyang kita adalah pelaut hebat. Mereka adalah penjelajah samudra yang sangat berani. Mereka juga pandai membuat perahu dan kapal. Dengan perahu itu, mereka berlayar mengelilingi dunia. Perahu apa sajakah itu? Yuk, kita cari tahu jawabannya di dalam buku ini.
Cempluk, anak perempuan berusia tujuh tahun, adalah anak yang cerdas dan lincah. Setiap Minggu pagi, Cempluk menemani ibunya berjualan pecel di depan Sanggar Tari Ibu Niken. Sebenarnya, Cempluk ingin sekali berlatih menari seperti teman-temannya. Namun, ibunya tidak punya uang untuk membayar les tari. Apa yang dilakukan Cempluk agar bisa menari? Bagaimana perlakuan anak berambut ika…
Rumah Azka didatangi banyak orang. Azka kesal karena ia harus berbagi baju, juga meminjamkan selimut dan bantal kesayangan. Akan tetapi, saat melihat Sasti dan keluarganya yang menderita, Azka tidak tega. Ia ingin melakukan lebih banyak untuk membantu korban banjir itu.